Sehelai Nafas Yang Tersisa
Ketika hari-hari telah tersusun rapi untuk terbang
Sayapku patah bersama helai rambut yang mulai rontok
Seperti daun-daun jatuh dari rantingnya ditiup angin
Nikmat kesakitan terasa dalam dada, sirna
Aku mulai membaca tubuhku yang tak utuh
Menguliti setiap perjalanan dari sebuah pementasan
Hingga pecahan keringat mengulung batu-batu di kepalaku
Lalu pergi berlayar menyusuri lembar-lembar waktu
Sembari menterjemahkan sehelai nafas yang tersisa
Sebelum senja meninggalkanku
Kujadikan sajadah sebagai surat suci untukmu
Sebab, tak ada lagi sisa kertas di meja belajarku
Semua sirna dengan waktu yang tak bisa kita kuasai.
HK,130208